Selamat Datang di Suara Arus Bawah

Senin, 01 Desember 2025

Dinamika Kesultanan Aceh Darussalam

OPINI – Kesultanan Aceh Darussalam, yang berdiri pada tahun 1496 hingga runtuh pada 1903, merupakan salah satu kerajaan Islam terkuat dan berpengaruh di Nusantara serta Asia Tenggara. Sejarahnya penuh dengan dinamika politik, ekonomi, militer, dan budaya yang membuatnya menjadi pusat perhatian dunia pada masa kejayaannya.

Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496 dengan tujuan menyatukan berbagai kerajaan kecil di sekitar Aceh, seperti La Muri, Pedir, dan Daya. Tujuan utama penyatuan ini adalah memperkuat pertahanan melawan ancaman kolonial Portugis yang pada tahun 1511 berhasil menguasai Malaka, pusat perdagangan penting di Asia Tenggara. Dengan kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, Aceh menjadi basis perlawanan utama terhadap kekuasaan Portugis dan pelindung kepentingan islam di wilayah tersebut.

Puncak kejayaan: Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Selama masa pemerintahannya, Aceh memperluas wilayah hingga ke Pahang, Perak, Kedah, Johor, dan Pattani (Thailand Selatan), bahkan mencakup sebagian besar Sumatera dan semenanjung Malaya. Aceh juga menjadi pusat perdagangan internasional strategis di Selat Malaka, dengan komoditas ekspor seperti lada, rempah-rempah, emas, dan hasil hutan, serta menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Utsmaniyah, India, dan Eropa.

Baca juga: Manajemen Masyarakat Menurut Hadis

Sultan Iskandar Muda juga memperkenalkan sistem hukum Qanun Meukuta Alam berdasarkan prinsip Islam dan mendirikan bangunan megah seperti Masjid Raya Baiturrahman (1612) serta Taman Sari Gunongan sebagai tanda cinta kepada permaisurinya. Aceh juga menjadi pusat pendidikan Islam penting di Asia Tenggara.

Kemunduran kesultanan Aceh: Setelah kematian Sultan Iskandar Muda pada tahun 1636, kesultanan mulai mengalami kemunduran akibat konflik internal, tekanan kolonial Eropa, dan melemahnya kepemimpinan.

Pada abad ke-19, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh (Perang Aceh) pada April 1873, setelah Traktat Sumatra 1871 antara Inggris dan Belanda memberi jalan bagi agresi kolonial. Pahlawan seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Panglima Polem, dan Cut Nyak Meutia memimpin perlawanan gigih, namun Belanda menerapkan taktik “perang habis-habisan” dengan membakar desa, merusak ladang, dan membentuk Korps Marose. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh setelah Sultan Muhammad Daud Syah menyerah pada 26 Januari 1903.

Baca juga: Fakultas Dakwah IAI Diniyyah Pekanbaru Gelar Outing Class: Perkuat Sinergi Dakwah, Sosial, dan Psikologi

Warisan Budaya dan Pengaruh: Meskipun telah runtuh, warisan kesultanan Aceh tetap terasa hingga saat ini. Seperti hukum adat Aceh, identitas keislaman yang sangat dominan, semangat kedaulatan politik, serta memori kolektif tentang perjuangan melawan kolonialisme.

Beberapa warisan kesultanan Aceh yang masih terjaga hingga saat ini yaitu ada Masjid Raya Baiturrahman yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, yang pernah dibakar Belanda pada 1873, dan dibangun kembali pada 1879; tetap berdiri kokoh meskipun terkena tsunami 2004.

Kemudian juga ada Makam Sultan Iskandar Muda yang dihiasi kaligrafi indah, dan menjadi bukti seni serta budaya masa kejayaan. Budaya Lainnya seperti Seni pertunjukan tari saman, musik tradisional, dan peran Aceh sebagai pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara.

Dinamika Kesultanan Aceh adalah kisah tentang bagaimana sebuah masyarakat maritim membangun kejayaan melalui perdagangan dan Islam, menghadapi tekanan kolonial, dan bertransformasi menjadi identitas politik yang bertahan hingga hari ini.

Menurut pandangan kami, Aceh menjadi contoh bagaimana sejarah tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan luar, tetapi juga oleh kemampuan internal suatu bangsa dalam menjaga legitimasi, menyelesaikan konflik, dan mempertahankan karakter budaya.

Tulisan ini ditulis oleh Aura Roudhotul Jannah, Marisa Lianda, Yolanda Rio Ferdinand dan Parel Putra, Mahasiswa Prodi Matematika UIN Suska Riau.

Tags

Terkini